“Hanya Teman, Tapi Kehilangan”
Oleh:NAOMI OLIVEIRA ULIBASA TOBING (Naomi)
(Siswi Kelas VI SD St. Fransiskus III Jakarta)
Rara dan Dino selalu berkata bahwa mereka hanya teman. Dan memang begitulah adanya. Tak ada sapaan manis berlebihan, tak ada janji, tak ada rasa memiliki. Hanya dua orang yang kebetulan sering berjalan berdampingan dan saling memahami lebih dari yang lain.
“Kalau aku telat balas, berarti aku ketiduran,” kata Dino suatu malam.
“Tenang, aku juga sering begitu,” jawab Rara sambil tertawa kecil.
Percakapan mereka sederhana tentang tugas sekolah, hari yang melelahkan, atau hal-hal remeh yang sebenarnya tak penting, namun terasa hangat. Dino selalu ada saat Rara butuh didengar. Rara pun demikian, hadir tanpa diminta, tanpa berharap balasan apa pun. Semuanya terasa wajar. Terasa cukup.
Masalah datang dari sesuatu yang tak pernah Rara bayangkan. Dino mulai menjauh. Bukan karena marah, bukan karena benci melainkan karena ia memilih orang lain sebagai tempat pulang ceritanya.
Perlahan, Rara tahu dari orang lain bukan dari Dino bahwa dirinya tak lagi sepenting dulu.
“Kamu kenapa sekarang jarang ngobrol?” tanya Rara suatu sore. Nadanya tetap biasa, seolah tak ada yang berubah.
Dino mengangkat bahu. “Lagi ingin sendiri saja.”
Jawaban itu terdengar jujur, tetapi tak sepenuhnya benar.
Sejak saat itu, semuanya berubah tanpa pertengkaran. Mereka masih saling menyapa, masih bercanda seperlunya, tetapi ada jarak yang tak mampu dijelaskan. Rara berhenti bercerita. Dino berhenti bertanya. Bukan karena benci hanya karena tak lagi dianggap perlu.
Suatu hari, Rara mendengar Dino tertawa lepas bersama orang lain, membicarakan hal-hal yang dulu hanya mereka bagi berdua. Saat itulah Rara mengerti posisinya telah tergantikan. Tanpa perpisahan. Tanpa penjelasan.
“Aneh, ya,” gumam Rara pada dirinya sendiri. “Kehilangan seseorang yang sebenarnya tidak pernah kita miliki.”
Ia tersenyum tipis, walau hatinya terasa perih.
“Tapi memang dari awal, aku bukan siapa-siapa baginya. Semoga Dino bisa lebih bahagia tanpa aku.”
Rara menghela napas panjang, lalu berjalan ke taman sekolah. Ia duduk di bawah pohon yang dulu sering mereka lewati bersama. Air matanya jatuh perlahan tanpa suara, tanpa saksi. Tak ada yang tahu bahwa hari itu Rara benar-benar merasa ditinggalkan.
Hujan turun deras, seolah langit ikut memahami perasaannya.
Harapan palsu itu bukan tentang cinta yang ditolak, melainkan tentang kebersamaan yang ternyata hanya singgah sebentar. Tentang merasa penting, lalu perlahan disadarkan bahwa keberadaanmu mudah tergantikan. Dan yang paling menyakitkan, Rara tak punya hak untuk marah.
Karena sejak awal, mereka memang hanya teman.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
"Pensil Ajaib Ronal"
Oleh :GEOTENO ELIEZER SALOUW (Geo) (siswa Kelas 6 SD St. Fransiskus III Jakarta) Ronal adalah siswa kelas 6 SD yang rajin belajar, tapi sering merasa kurang percaya diri, te
ORANG YANG TEPAT, WAKTU YANG BERKHIANAT
Oleh: NOVA MARIA KRISTINA (Nova) (Siswi kelas VI SD St. Fransiskus III Jakarta) Pagi itu cerah, secerah wajah murid-murid SD Fransiskus III yang kembali memenuhi halaman sekolah.
SUNYI DALAM PERTEMANAN
Oleh : IBRENA AMANDAYUNNA BRAHMANA (Ibrena) (Siswi kelas VI SD St. Fransiskus III Jakarta) Aku dan Adel adalah dua orang yang berbeda dalam hampir segala hal. Adel suka meng
Masihkah Kita Bersahabat?
By : BRIGITTA RAISSA SAMANTHA GINTING (Brigita) (Siswi kelas VI SD St. Fransiskus III) Gita dan Tifa adalah dua sahabat yang telah tumbuh bersama sejak taman kanak-kanak. Bert
Surat Tua Untuk Ibu Nirmala
Ilustrasi by Gemini AI Oleh: ELORA ABIGAIL BUTAR BUTAR (Elora) (Siswi kelas VI SD St. Fransiskus III Jakarta) Langit Jakarta sore itu berwarna kelabu, sep
SENYUM DIBALIK PAPAN TULIS
By : CATHERINE AZELIA NAPITU (Catherine) Murid Kelas VI SD Santo Fransiskus III Pagi yang cerah menyelimuti kota Jakarta. Sinar matahari memantul pada deretan gedung-gedu
Bunga Yang Tercabut Paksa
By:JADINE GRACIELA CONG (Jadine) Siswi Kelas VI SD Santo Fransiskus III Suatu hari, hiduplah seorang gadis bernama Dewi. Ia yatim piatu sejak kecil, Sediri di dunia yang terasa begitu
“Jejak Persahabatan Andi dan Kilan”
Oleh:KEVIN GLENNICHOLAS BENEDICT SIMANJUNTAK (Kevin) (Siswa kelas VI SD St. Fransiskus III Jakarta) Di suatu desa yang tenang, diantara hijaunya pepohonan dan riuh tawa anak-a
Sebuah perpisahan
By:GOSYEN ZIO TIMOTY LAJANTO TJANDRA (Gosyen) Malam situasinya tenang penuh keheningan. Di bawah sinar rembulan yang lembut, Cristian dan Ifana berjalan beriringan di jalan k
Boneka Beruang, Sahabat Terbaikku
By:SYALOMITA EVANGELIS RONATIO PASARIBU (Shalom) (siswi kelas VI SD St.Fransiskus III Jakarta) Sore itu, mentari perlahan tenggelam di balik jendela rumah kecil milik keluarga
